Cerita Unik ‘Budak-budak’ Burung Lovebird

Jakarta, CNN Indonesia — Apa mau dikata kalau sudah terlanjur ‘cinta,’ apapun bakal dilakukan agar si kesayangan tetap sehat. Ini tak cuma berlaku untuk urusan percintaan antarmanusia, tapi juga pada pecinta burung dan peliharaannya.

Vicki Wijaya Putra adalah salah satu dari sekian banyak penghobi burung yang amat merawat burungnya.

Sampai saat ini dia punya 18 ekor burung peliharaan di rumahnya di Yogyakarta. Lovebird menjadi jenis burung yang kini jadi fokus perhatiannya. Burung satu ini rupanya banyak mendulang prestasi.

Menurutnya, kini Lovebird sedang booming di kalangan pencinta burung berkicau. Beragam lomba pun diadakan demi memfasilitasi kicau burung ini.

Baca Juga: Harga Burung Lovebird November

“Yang dilombakan kicaunya, kalau orang bilang ngekek-nya. Kan suaranya kayak orang tertawa,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Untuk Lovebird, kriteria kemenangan ada pada panjang ‘tawa’ si burung. Semakin panjang maka kemungkinan menang semakin besar.

Bisa bayangkan seberapa besar pengeluarannya untuk mengurus semua burungnya. Hanya saja, Vicki mengatakan kalau burung jenis ini tak menguras duitnya.

Biaya Pakan

Untuk makan saja, Lovebird hanya diberi pakan utama berupa milet putih. Milet adalah biji-bijian bulat kecil berwarna putih. Satu kilogram milet putih harganya Rp10 ribu dan bisa untuk konsumsi burung selama dua minggu.

Untuk pakan selingan, Lovebird biasa diberi kangkung dan jagung agar tidak bosan. Jagung pun harganya murah. Satu buah hanya Rp2 ribu dan bisa untuk pakan lima ekor burung.

“Kalau vitamin ya vitamin burung biasa. Daya tahan Lovebird itu kuat, dia jarang sakit. Vitamin diberikan kalau sakit saja,” imbuhnya.

Baca Juga: Harga Burung Bulan Oktober

Dari 18 burung yang dimilikinya, ia memiliki enam jagoan yang siap diturunkan untuk kompetisi. Lovebird yang akan ikut lomba biasa mendapat perlakuan khusus.

Menurut penuturannya, perlakuan khusus ini pun tak bikin kantong jebol. Sebagai ‘ritual’ sebelum tanding burung dimandikan sebelum matahari terbit dan ‘dijemur’ maksimal hingga jam 10.00 WIB.

Selain itu, burung juga diberi makanan kesukaannya masing-masing. Kangkung dan jagung juga jadi pilihan sebab keduanya membuat libido burung meningkat.

“Lovebird itu burung yang hidup berkoloni. Kebiasaan mereka adalah bersaing untuk menentukan siapa yang terbaik dalam kelompok. Burung akan beradu (kicau) saat birahi tinggi. Ketika mendengar burung lain berkicau, burung akan semakin terpancing,” jelas Vicki.

Senada dengan Vicki, seorang penghobi burung berkicau asal Depok, Jawa Barat, Wasis Gunadi juga mengakui bahwa Lovebird sedang digandrungi.

Dia juga setuju kalau merawat burung khususnya Lovebird tak butuh dana yang terlalu besar. Dia mengungkapkan bahwa perawatan burung itu tidak seribet burung jenis lain, salah satunya Murai Batu.

Burung murai batu memang memiliki harga jual lebih tinggi dari Lovebird. Hal ini pun rupanya berimbas pada biaya perawatan si burung.

Ia yang juga seorang peternak atau breeder memiliki tiga pasang Murai Batu. Biaya pakan untuk sepasang burung mencapai Rp500 ribu.

“Pakan Murai Batu itu jangkrik sama kroto (telur semut merah). Kroto agak susah carinya, makanya lebih banyak jangkrik,” kata Wasis.

Selain soal pakan, Murai Batu memiliki ekor cukup panjang sehingga memerlukan kandang lebih besar daripada Lovebird. Untuk perlakuan khusus sebelum kompetisi, Murai Batu perlu ‘berolahraga’ alias dilepas di kandang besar berukuran empat meter. Baru kemudian seminggu sebelum lomba, burung diletakkan di kandang biasa untuk beristirahat memulihkan stamina.

Penilaian Murai Batu dan Lovebird berbeda. Murai batu dinilai dari tiga poin utama yakni volume, durasi kicauan dan variasi ‘lagu’. Lagu yang dimaksud di sini ialah irama sehingga, jika semakin variatif dan bagus maka kemungkinan menang semakin besar.

“Gayanya juga. Dia punya tarian dengan mengepakkan ekor. Tapi itu hanya tambahan, yang utama tetap tiga tadi,” tambah Wasis.

Di samping itu, Murai Batu harus dijaga jangan sampai ia kontak dengan Murai Batu lain. Wasis berkata ‘pertempuran’ sebelum kompetisi harus dihindari sebab saat kompetisi tiba, burung sudah tidak punya tenaga untuk berkicau. Oleh karena itu, kandang selalu dalam kondisi tertutup.

Perawatan yang tak murah plus pengalaman pahit tak membuat Wasis kapok mencintai burung-burung peliharaannya.

Lebaran lalu, dia harus rela kehilangan tiga ekor Murai Batu juara. Jika ditaksir, per ekor dapat dijual dengan harga Rp2 juta.

Sebelumnya, pada 2003 ia pernah memiliki Anis Merah yang ditawar senilai Rp50 juta. Namun ia enggan melepas si burung. Tak lama setelahnya, burung itu mati.

“Kadang orang melihat saya itu diperbudak burung. (Orang menganggap) itu kan capek. Kalau saya melihatnya sebagai kebutuhan,” katanya. (chs)

Sumber: www.cnnindonesia.com